History DUTI

Sejarah Berdirinya Dewan Ulama Tarekat Indonesia (DUTI)

Krisis spiritual yang melanda umat Islam dewasa ini akibat globalisasi semakin menjauhkan penganutnya dari tujuan dari Islam itu sendiri, yaitu Islam yang ramah dan penuh rahmat bagi sekalian alam. Di satu sisi, umat Islam semakin jauh dari agamanya sehingga terbawa arus kepada kehidupan hedonis duniawi dan seakan tak memiliki tujuan. Namun, di sisi yang lain, sebagai respon atas fenomena itu maka muncul gerakan yang ingin mengubah keadaan agar kembali sebagaimana ajaran Islam awal seperti yang dibawa oleh Rasulullah Saw tetapi tidak disertai dengan pemahaman agama yang memadai. Akibatnya, muncullah gerakan radikal yang dengan mudah ditumpangi oleh musuh-musuh Islam dengan menggunakan cara-cara kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Umat Islam diadu-domba sehingga semakin lemah dan mudah untuk dikuasai.

Fenomena semakin rapuhnya pondasi keberagamaan umat Islam tidak hanya terkait dengan mazhab-mazhab fikhiyah tetapi juga merasuk ke dalam dunia tarekat yang notabene sebagai jalan spiritualnya. Di satu sisi, tarekat dibidahkan bahkan dianggap sesat oleh gerakan radikal wahabi salafi  dan pada saat bersamaan para penganut dan pengamal tarekat dengan ego masing-masing tidak mau menyatu dengan tarekat yang lain. Maka, ketika ada tarekat yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya, serta merta masyarakat dan pemerintah menfonisnya tarekatnya sebagai pembawa ajaran sesat dan harus ditutup.

Keadaan di atas ternyata telah lama membuat gusar para pimpinan tarekat, terutama di Sumatera Barat. Maka dalam beberapa waktu terakhir mereka melakukan komunikasi satu sama lain sehingga disepakatilah untuk diadakan pertemuan para mursyid, khalifah dan jamaah tarekat se Sumatera Barat. Mereka sepakat mengadakan pertemuan lintas tarekat pada tanggal 16-17 Januari 2016 di di Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani, Koto Sani Kec. Sepuluh Koto Singkarak, Kab. Solok, Sumatera Barat. Pesantrean ini sebagai satu-satunya pesantren tasawuf di Sumatera Barat dan merupakan pusat tarekat Qadiriyah Hanafiah sebagai tempat penyelenggaraan acara.

Sebagai tuan rumah, Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani mempersiapkan acara tersebut dengan sebutan “Mudzakarah Ulama Thariqah Sumatera dan Zikir Tawajjuh Akbar”  dengan tema “Tarekat adalah kebersamaan dan di dalam kebersamaan terdapat keberkahan.” Hadir dalam kegiatan ini terdapat seputuh Mursyid dari beberapa tarekat: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani (Qadiriyah Hanafiah, Koto Sani), Prof. Dr. Samadani, MA (Naqsyabandiyah, Padang), Buya Abdurrahman (Naqsyabandiyah Nizhamiyah, Pasir),  Buya H. Arifin Mukhtar (Sammaniyah Naqsyabandiyah, Simaninggir), Buya H. Jasrialis (Naqsyabandi 50 Koto), Buya H. Kamar Wahdi, S.Ag ((Naqsyabandi, Tarantang 50 Koto), Buya H. Isra Malin Petiah ((Naqsyabandi, Payakumbuh), Buya H. R. Datu Siri Marajo (Naqsyabandi, 50 Koto), Buya Karim (Naqsyabandiyah Khalidiyah, Malalo), Buya Yusuf (Naqsyabandi, Belubus), Buya Nurhaliman (Naqsyabandi, Mungka), Buya Mik Syekh Batuah (Naqsyabandi, Tanjung Barulak), dan sebagian diwakilkan kepada para khalifahnya. Selain dari Sumatera Barat, hadir pula Mursyid Tarekat Sammaniyah Naqsyabandiyah dari Penyambungan, Mandailin Natal, Sumatera Utara; Naqsyabandiyah dari Tapanuli Selatan, Tarekat Syamsiriyah (Jamaah an Nazir) dari Batam dan Dumai, dan Naqsyabandiyah dari Bengkulu.

Acara yang diselenggarakan selama dua hari ini, Sabtu-Minggu tanggal 16-17 Januari 2015 diisi dengan berbagai sambutan, tausiah, dan zikir. Dalam acara pembukaan, turut hadir Bupati Kabupaten Solok yang diwakilkan kepada Camat X Koto Singkarak, Ketua II MUI Sumatera Barat yang sekaligus ketua Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabarah Nahdliyah Sumatera Barat (Prof. Dr. Salmadanis, MA), Rois Am Dewan Ulama Tarekat Indonesia (Prof. (Riset) Dr. Ahmad Rahman, MA), Ketua Persaudaraan Muslim se Dunia Foundation (Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo, MA), dan Rois Am Forum Persaudaraan Tarekat Indonesia (Dr. Hanafi Guciano).  Bupati menekankan pentingnya pembangunan spiritual bagi masyarakat, khususnya kepada generasi muda. Karena itu, Kabupaten Solok menetapkan bahwa semua warga wajib mematikan televisi mulai Magrib hingga Isya dan diisi dengan tadarus Al-Qur’an. Selanjutnya, Ketua II Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat, Prof. Dr. Salmadanis, MA menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Salmadanis mengatakan, Sumatera Barat sebenarnya adalah pernah menjadi salah satu pusat tarekat di Indonesia. Namun sejak masuknya paham Salafi Wahabi, tarekat semakin lama semakin disingkirkan hingga sekarang ini dianggap sebagai penyebar bidah bahkan dianggap sebagai aliran sesat. Salmadanis mengaku bahwa dirinya pernah di sidang di MUI Sumatera Barat atas keterlibatannya di dunia tarekat yang dianggap sebagai penebar bidah tersebut. Untuk itu, Salmadanis mengajak agar semuat Mursyid dan Khalifah tarekat Sumatera Barat bersatu untuk menghidupkan kembali ajaran tarekat ini sebagai solusi atas krisis spiritual umat Islam, khususnya di Sumatera Barat. Apa yang disampaikan oleh Salmadanis dibenarkan dan dikuatkan oleh Rais Am Ulama Tarekat Indonesia, Prof. (Riset) Dr. Ahmad Rahman, MA. Ahli Peneliti Utama di Kemenag Pusat ini mengatakan bahwa bangsa penjajah yang bekerjasama dengan Yahudi telah memutarbalikkan fakta-fakta sejarah kita sebagai negara Islam tersebesar yang pernah tumbuh di Nusantara ini. Mereka hendak menghapus sejarah umat Islam sehingga tidak lagi mengenali identitas dirinya sendiri, ulasnya.

Prof. Dr. M. Bambang Pranowo, MA selaku Ketua Persaudaraan Muslim Sedunia Foundation menyoroti bahwa Indonesia sejak dari dulu dikenal sebagai penganut Islam yang ramah. Namun, sejak masa penjajahan dan munculnya gerakan-gerakan radikal teroris, umat Islam Indonesia mulai tercemari keramahannya, berganti dengan kemarahannya. M. Bambang Pranowo yang ditugas oleh Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) untuk melakukan redalikalisasi umat Islam ini menyatakan bahwa munculnya gerakan radikal di Indonesia adalah profokasi dari bangsa Yahudi yang tidak pernah senang dengan umat Islam. Mereka yang membiayai berbagai gerakan-gerakan teroris bersenjata di Timur Tengah dan Afrika, lalu direkayasa seakan-akan itu muncul dari dalam Islam sendiri. Paham ini didukung dengan dana dan berbagai fasilitas hingga sampai kepada umat Islam Indonesia. Radikalisme itu semakin subur karena umat Islam Indonesia tidak memiliki cukup pemahaman Islam yang benar, terlebih lagi mereka tidak memiliki kadar spiritual yang tinggi. Oleh karena itu, jawaban untuk fenomena Islam yang marah saat ini hanya bisa diberikan melalui pendidikan spiritual, dan pendidikan spiritual itu hanya ada di dunia tarekat. Jadi, tarekat harus bangkit dan mengambil peran maksimal untuk menampilkan Islam yang ramah.

Kesempatan terakhir diisi dengan sambutan dari Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani. Tuangku menguraikan tentang adab bertarekat, khususnya dalam kaitannya dengan hubungan antara satu tarekat dengan tarekat yang lain. Inti dari tarekat adalah menegakkan adab islami, dan secara khususnya diajarkan mulai dari adab seorang murid kepada gurunya. Ada tiga hal penting yang harus dimiliki seorang murid dalam mengikuti seorang guru, pertama, bahwa adab kepada guru tidak boleh  lebih tinggi daripada adab kepada orang tua; kedua, guru atau mursyid adalah orangtua spiritual bagi seorang murid; dan ketiga, adab seorang murid kepada guru atau mursyid tarekat lain harus sama dengan adab kepada guru atau mursyid sendiri. Tidak menjunjung adab kepada guru atau mursyid tarekat lain sama artinya dengan tidak menjunjung adab kepada guru atau mursyid sendiri. Hal lain yang disampaikan adalah bahwa setiap mursyid antara satu tarekat dengan tarekat lain adalah tersambung secara ruhani, maka jika ada tarekat yang tidak mau menjalin ukhuwah dengan yang lain sebenarnya bukanlah pengamal tarekat yang benar. Atau, merasa tarekatnya lebih baik dan lebih benar daripada tarekat lain atau merendahkan tarekat lain maka sesungguhnya ia bukanlah tarekat. Pengamal tarekat itu mutlak bersaudara tanpa melihat perbedaan tarekatnya, dan seorang mursyid tidak boleh membatasi muridnya untuk menimbah ilmu kepada guru-guru yang lain. Ini penting dipahami oleh semua mursyid, khalifah dan jamaah tarekat, tegas Tuangku M. Ali Hanafiah. Acara hari pertama ditutup dengan tawajjuhan akbar yang dipimpin oleh Buya Karim tepat jam 00.00 hingga 02.00 pagi. Suasana tawajjuhan membuat ribuan jamaah yang hadir larut dalam penyesalan diri dan menangis karena mengakui dosa dan kesalahannya kepada Allah.

Pada hari kedua, acara mulai dengan shalat subuh berjamaah yang diimami oleh Prof. dr. Salmadanis, MA. Selanjutnya dilanjutkan dengan mudzakarah para ulama tarekat se Sumatera Barat. Dalam mudzakarat tersebut disepakati untuk menjadikan Pesantren Tasawuf Rabbani Koto Sani sebagai pusat forum tarekat dan Dewan Ulama Tarekat Indonesia (DUTI). Forum Tarekat ini kembali menyelenggarakan kegiatan Mudzakarah pada 23 April 2016 yang bertempat di Islamic Centre Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Hadir dalam acara ini berbagai ulama tarekat dari Aceh, Sumatera Utara, Riau dan bahkan dari Jakarta.

Untuk memperkokoh statusnya sebagai perkumpulan ulama, Dewan Ulama Tarekat Indonesia (DUTI) telah mendapatkan Akta pendirian Nomor 02 tanggal 11 Agustus 2016. DUTI juga telah mendapatkan pengesahan pemerintah pusat melalui   Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0071646.AH.01.07.Tahun 2016 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI). Serta, kepengurusan pusat DUTI telah terdaftar pada Badan Keatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Tangerang Selatan Nomor 220/SKT/KESBANGPOLINMAS/ 2016.

Dengan DUTI, diharapkan agar semua ulama tarekat secara bersama-sama mengembangkan tarekat agar dapat dinikmati oleh semua umat Islam. DUTI akan meluruskan paham-paham yang dialamatkan kepada tarekat yang tidak sesuai dengan ajaran pokok Islam dalam Al-Qur’an dan Hadis. Selain itu, DUTI juga akan mewakili para penganut tarekat untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada pemerintah. Dengan adanya DUTI ini, pemerintah tidak bisa dengan mudah menetapkan suatu tarekat itu sesat atau lainnya tanpa mendengarkan rekomendasi dari para ulama tarekat yang tergabung di DUTI ini.

Organisasi

Pengurus Pusat DUTI saat ini berada di Serpong, Kota Tangerang Selatan dan memiliki cabang di beberapa propinsi seluruh Indonesia. Beberapa provinsi juga telah berhimpun di antaranya Sumatera Utara, Riau, Banten, dan DKI Jakarta.

Dewan Ulama Thariqah Indonesia © 2017 Frontier Theme