Transkrip Sambutan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin

Disampaikan pada acara Silaturahim dan Mudzakarah Ulama Thariqah se-ASEAN di Pesantren Tasawuf Rabbani, Kab. Solok, Sumatera Barat, 1-2 April 2017.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sengaja hadir untuk secara langsung ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga dan apresisasi saya yang sebesar-besarnya, khususnya kepada para mursyid tharqiah seluruh jamaah thariqah di Indonesia bahkan se ASEAN. Yang saya hormati para mursyid dari Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Para mursyid tersebut telah memberikan kontribusi dan sumbangsih yang luar biasa dalam upaya menjaga dan memelihara ketahanan kita sebagai bangsa, khususnya dalam hal bidang keagamaan.

Kita tahu bahwa, bagi umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini, pola hubungan dan pola komunikasi, pola interaksi antara manusia dengan Tuhan-nya, Allah Swt itu dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu:

  1. Pertama, pendekatan fiqhiyah, ibadah lahiriyah. Itulah mengapa kita sebagai abid hubungannya dengan ma’bud, seorang makhluk dengan khaliqnya, Allah Swt. Hubungan ketaatan dan ketundukan serta berserah diri kepada Allah Swt. Inilah pendekatan fiqhiyah yang selama ini diajarkan oleh para guru-guru, orangtua, dan para pendahulu kita.
  2. Kedua, pendekatan ibadah bathinyah/tasawuf. Ini tidak kalah pentingnya yaitu pola hubungan antara hamba dengan tuhannya dengan ibadah lahiriyah. Pendekatannya tidak lagi hanya ketaatan dan ketundukan, tetapi hubungan ‘asyik wa ma’syuk. Hubungan mereka antara yang bercinta, yaitu pendekatan tasawuf. Hubungan saling mencintai antara hamba dengan Tuhan-nya, dan sebaliknya. Hubungan ini “lebih egaliter dan setara.” Sebab, di dalam diri manusia ada sisi lahut atau ketuhanan sementara pada zat Allah ada sisi nasut atau kemanusiaan. Pada setiap kita, Allah telah meniupkan ruh, wa nafakhtu fiihi min ruhhi (Aku meniupkan sebagian dari ruh-Ku). Dalam diri kita ada ruh ilahiyah sebagaimana yang diajarkan dalam tasawuf.

Ada keseimbangan pola hubungan itu, yakni ibadah lahiriyah fiqhiyah dan ibadah bathiniyah.

Sebagai Menteri Agama, sekali lagi saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas nama pemerintah kepada para habib, syekh, dan mursyid dan ahli tarekat. Apalagi kita memiliki JATMAN dan DUTI yang sudah memberikan kontribusi kepada bangsa.

Hadirin yang berbahagia

Sebagaimana diketahui bersama, hari ini kita hidup di dunia digital. Sebuah dunia yang sama sekali sangat berbeda dengan apa yang telah kita alami sebelumnya yang serba manual. Dunia digital membuat manusia semakin mudah mengakses informasi dan mendapatkan apa yang diinginkan. Hanya dengan bermodal handphone yang sekarang sudah tidak lagi menjadi barang mewah, dengan mudahnya berselancar di dunia maya dalam 24 jam. Dengan handphone, kita dapat membeli kendaraan, pakaian, makanan dan sebagian besar kebutuhan hidup manusia. Sungguh sangat instan dan serba kilat. Dunia digital ibarat sebuah pedang, kalau kita tidak hati-hati maka bisa melukai dan menciderai orang yang menggunakannya. Satu sisi, ia sangat bermanfaat untuk memotong mata rantai sekat-sekat birokrasi kehidupan, namun pada saat yang sama ia juga memiliki bahaya yang sangat besar jika tidak disikapi dan dikendalikan dengan kearifan.

Paradigma dan gaya hidup dengan pola serba instan, hedonistik, dan materialistik adalah sebagian kecil dari ekses negatif dari dunia digital. Karenanya, manusia hari ini tidak lagi mau berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang ke tepian. Maunya langsung-langsung saja. Langsung bahagia tanpa nestapa, mau langsung jadi cendekia tanpa mau membaca, langsung kaya tanpa berusaha, bahkan langsung ingin masuk surga tanpa amal nyata. Metalitas seperti demikian akan berakibat pada perbuatan menghalalkan segala cara demi mencapai nafsu angkara. Pada puncaknya, mentalitas semacam ini akan mengantarkan seseorang kepada keyakinan bahwa dunia adalah segalanya. Dunia adalah tujuan akhir hidupnya. Bukankah agama kita telah mengajarkan bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan akhirat. Bukankah Allah Swt telah mengingatkan, walal akhiratu khairun laka minal ulaa (Kehidupan akhirat adalah lebih baik bagi kamu daripada kehidupan dunia).

Hadirin yang berbahagia

Tentu, ayat di atas tidak lantas dipahami bahwa bahwa umat Islam dilarang untuk berkompetisi dalam kehidupan ini. Bahkan, umat Islam wajib berkompetisi dalam hal-hal yang baik dan konstruktif. Namun, barangkali manusia lupa terhadap akhir dari kompetisi di dunia ini. Banyak yang mengira bahwa akhir dari kompetisi ini adalah kemenangan duniawi. Karenanya, ia rela melaukan apapun demi kemenangannya, kendati harus keluar dari treck dan koridor yang telah ditetapkan Tuhan, yakni kebaikan dan kebermanfaatan. Agar kompetisi duniawi ini berada pada koridor kebaikan dan kebermanfaatan maka dibutuhkan kendali. Kendalinya adalah hati nurani, hati yang bercahaya. Hati yang bercahaya akan selalu tersambung dengan sumber dari segala sumber cahaya, yaitu Allah Swt. Hati yang terus tersambung dengan Allah akan mengarahkan pemiliknya ke jalan yang benar dan diridhai-Nya.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara menghidupkan dan menjaga hati nurani agar tetap bercahaya? Thariqah adalah jawabannya. Thariqah merupakan jalan atau cara untuk melatih hati. Thariqah adalah metode untuk mengasah dan mengsuh nurani agar selalu bersih dan suci. Kebersihan hati dapat memancarkan cahaya. Sebuah cahaya yang terpantul dari nur ilahi sehingga pemilik hati yang suci ini akan terus terkoneksi dengan tuhannya selama 24 jam tanpa henti, tanpa dan tidak pernah diskoneksi. Karenanya, pemilik hati yang suci akan mampu menjalani kehidupan dunia dengan kesejukan, kedamaian, dan kelembutan penuh harmoni.

Hadirin sekalian yang berbahagia

Jika kita buka kitab suci, tergambar betapa kehidupan dunia ini tidak cukup hanya digapai dengan logika hukum fiqih yang legal formal semata. Ada banyak misteri dan rahasia tuhan yang tidak terjangkau kecuali oleh hati nurani yang suci. Dalam sejarah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khaidir a.s. yang diabadikan Al Qur’an surat al Kahfi ayat 65-82 sebagai contoh konkrit betapa nalar syariat semata tidak cukup digdaya untuk memahami realitas kehidupan. Dibutuhkan perpaduan antara nalar syariat dan intuisi hakikat, dibutuhkan koalisi antara kejernihan spiritual dan logika material.

Problemnya adalah hampir seluruh hidup manusia hanya diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan material dan nyaris menafikan dahaga spiritual. Padahal, kekuatan spiritual jauh lebih komprehensif dan universal jika dibanding dengan kekuatan fisik material. Di sinilah, majelis-majelis thariqah seperti DUTI dan JATMAN dan banyak yang lain menemukan titik urgensinya. Tidak sekadar sebagai paguyuban ulama dan pengamal tasawuf semata, tetapi di atas itu semua agar diharapkan organisasi seperti itu mampu menjadi instrumen dakwah yang arif dan bijak, dan juga sebagai media penyemai kecerdasan spiritual umat.

Hadirin sekalian yang berbahagia

Maka pada titik inilah, saya teringat kepada para penyebar Islam di masa-masa awal di bumi Nusantara. Mereka tidak hanya sekadar menggunakan kacamata fiqih dalam berdakwah tetapi juga mengkombinasikannya dengan pendekatan tasawuf. Jika kita perhatikan para pendakwah itu, di samping sebagai ahli fiqih dan ahli syariat, tetapi juga pengikut dan pengamal thariqah. Sebut misalnya Syekh Yusuf al Maqashahari adalah pengikut Tarekat Khalwatiyah, Syekh Abdur Rauf al Sinkili sebagai pengikut Tarekat Syattariyah, Syekh Nuruddin Ar Ranini pengikut Tarekat Qadiriyah, juga Syekh Abdul Shamad Al Palimbani dan Syekh Dawud al Fatani sebagai pengikut Tarekat Sammaniyah, Syekh Ahmad Khatib Al Sambas perumus dan penggagas Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dan tentu banyak lagi ulama yang lain.

Fakta sejarah di atas semakin menegaskan posisi tasawuf dalam dunia dakwah. Penggabungan antara ajaran fiqih dan tasawuf dalam sistim dakwah di kawasan nusantara membuat risalah Islam mudah diterima. Sentuhan tasawuf menjadikan konsep fiqh terasa lentur dan kontekstual. Kategori dan standarnya tidak terkesan kaku dan hitam putih, ada dimensi kebijakan dan kebijaksanaan di dalamnya. Kebijakan dan kebijaksanaan tersebut muncul dari mereka yang mengamalkan amaliah-amaliah tasawuf melalui institusi yang bernama tarekat. Karena itu, penyebaran dan persebaran Islam di Nusantara berjalan damai dan nyaris tidak ada pertumpahan setetes darah pun. Kecuali dalam beberapa dekade terakhir seiring dengan munculnya pendakwah baru yang menafikan dan bahkan mengkafirkan tasawuf dan pengikut tarekat. Ini, yang menurut hemat saya, menjadi tantangan dakwah tersendiri.

Pengkafiran secara membabi buta terhadap tasawuf dan tarekat berimbas pada keringnya konsep ajaran Islam. Padahal Nabi Muhammad Saw sendiri adalah teladan terbaik dalam dunia tasawuf. Sebagaimana kita ketahui bahwa beliau adalah orang yang paling zahid. Betul, dalam ajaran dan praktek tarekat ada hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi mengeneralisasi bahwa praktek tasawuf dan tarekat sebagai tindakan bidah dan kufur adalah perbuatan yang tidak bijak dan tak berdasar. Imbasnya, umat Islam era ini hampir saja gagal paham terhadap hakikat tasawuf dan tarekat. Berdasarkan informasi sepihak, mereka berasumsi bahwa tasawuf dan tarekat adalah bidah, kufur dan haram. Pemahaman ini tentu harus diluruskan dengan memberikan konten narasi agar umat tercerahkan dan kembali mempraktekkan ajaran tasawuf yang merupakan bagian dari ajaran Islam.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [ZA]

Updated: 10 April 2017 — 8:48 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dewan Ulama Thariqah Indonesia © 2017 Frontier Theme