Wahdah al-Wujūd

Oleh Dr. Ahmad Rahman, M.Ag, APU

Pada tahun 2003, Majelis Rabani Padang bekerjasama dengan penerbit Rabbani Jakarta menerbitkan hasil penelitian saya dengan judul Kalam Ilham Ilahi (kemudian tahun 2004 diterbitkan penerbit Hikmah, kelompok Mizan dengan judul Sastra Ilahi). Saya diminta oleh Tuangku Muhammad Ali Hanafiah membuat kata pengantar sebagai peneliti. Dalam kata pengantar, saya kemukakan bahwa wahdah al-wujūd adalah konsep tauhid yang paling tinggi dalam dunia tasawuf. Hal ini saya peroleh dari kuliah dan bacaan di S2 di IAIN Alauddin Makassar dan S3 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN), terutama disertasi alumni S3 IAIN Syarif Hidayatullah yang dipimpin oleh Prof. Dr. Harun Nasution. Tulisan saya tentang wahdah al-wujūd dicoret oleh Tuangku Muhammad Ali Hanafiah, kemudian saya mendapat keterangan, ia katakan: “Tidak ada sufi yang berpaham wahdah al-wujūd. Untuk apa seorang hamba bersatu dengan Tuhan? Apakah seorang hamba kalau bersatu dengan Tuhan, menjadi Tuhan juga? Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin ia tawadu’, merasa lemah, tidak memiliki sesuatu, dan ketergantungannya kepada Allah sangat tinggi. Para sufi ingin mendapatkan maqam cinta, yang menghasilkan ridha terhadap apa yang diberikan Allah SWT karena cinta kepada Allah adalah maqam tertinggi”.

Sejak itu, saya kaget dan merasa membuat kesalahan karena dalam tesis saya tentang Tarekat Sammaniyah di Sulawesi Selatan, tahun 1997, saya memasukkan sebagian ajaran tarekat ini berpaham wahdah al-wujūd. Sebenarnya tidak ada ungkapan wahdah al-wujūd dalam naskah-naskah Tarekat Sammaniyah yang saya peroleh. Namun karena pemahaman waktu itu bahwa ajaran tasawuf tertinggi adalah wahdah al-wujūd, maka dicari-carilah materi yang kira-kira cocok untuk dimasukkan dalam sub bab wahdah al-wujūd. Selain itu, Tarekat Sammaniyah di Sulawesi Selatan dituduh berpaham wahdah al-wujūd.

Disertasi saya yang merupakan lanjutan dari tesis, membahas tentang penyebaran dan ajaran Tarekat Sammaniyah di Sulawesi Selatan. Tarekat ini dianggap ajarannya batil (bertentangan dengan syariat) oleh Syaikh Shidiq Dahlan seorang ulama dari Mekah, menetap di Garut, Jawa Barat. Ulama ini mengeluarkan fatwa tahun 1931, dibacakan di Mahkamah Syariat di Bone, disponsori oleh Raja Bone, La Mappanyukki, dan dihadiri 26 ulama di Sulawesi Selatan. Ketika saya menanyakan langsung kepada Khalifah Tarekat Sammaniyah di Sulawesi Selatan, terutama di Pattene Maros, Abdullah Puang Rala, saya lebih kaget lagi, karena selama ini mereka dituduh berpaham wahdah al-wujūd, tapi ia sendiri tidak tahu apa itu wahdah al-wujūd. Hal ini juga berlaku pada Ibn Arabī yang dianggap pendiri paham wahdah al-wujūd. Setelah diteliti semua hasil karyanya, ia tidak pernah menyebut wahdah al-wujūd, kemudian lahirlah pendapat yang menyebut Ibn Arabī sesat, ahlu bid’ah, telah keluar dari Islam, bahkan terbit buku di Mesir yang diberi judul Tahāfut Ibn Arabī. Ibn Arabī dalam kamus tasawuf (Istilāhāt al-Sūfiyyah) sama sekali tidak menyebut istilah wahdah al-wujūd. Mantan Syaikh Azhar, Abd al-Hālim Mahmūd yang dikenal sebagai Abū Al-Sūfi menyatakan dalam bukunya al-Munqiz min al-Dalāl li Hujjah al-Islām al-Gazālī mā ’Abhāth fī al-Tasawwuf wa Dirāsāt ‘an al-Imām al-Gazālī bahwa paham wahdah al-wujūd bukan paham para sufi, termasuk Ibn Arabī dan Hallāj.
Sepengetahuan penulis, sampai tahun 1970-an beberapa tulisan yang menyebut istilah wahdah al-wujūd, hulūl, dan ittihād sebagai paham yang tidak bersumber dari Islam. Pada tahun 1980-an, baru muncul tulisan yang menganggap paham ini sebagai paham ketuhanan yang paling tinggi.

Dikutip dari pengantar buku “Inilah Aku (Here I Am)” hal. xxxi-xxxiii (Jakarta: Rabbani Press, 2011)

Updated: 6 April 2017 — 8:53 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dewan Ulama Thariqah Indonesia © 2017 Frontier Theme