Ilmu Ladunni

Oleh Dr. Ahmad Rahman, M.Ag, APU.

Pertanyaan yang selalu muncul, sekarang dan akan datang, apakah masih ada orang yang mendapat ilham atau mendapat ilmu langsung dari Tuhan tentang Islam setelah Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi terakhir wafat? Bukankah Islam sudah sempurna! Pertanyaan seperti ini pernah terlontar dari seorang sahabat Nabi SAW, Anas R.A. Ia menuturkan, “Sekali waktu aku (Anas) mengunjungi Uthman R.A. Dalam perjalananku, aku berpasangan dengan seorang perempuan, dan sejenak aku memandangnya seraya mengagumi kecantikannya. Ketika aku masuk menemui Uthman, beiau berkata: ”Seseorang dari kalian mendatangiku, sementara bekas-bekas zina jelas tampak di kedua matanya. Tidakkah kau ketahui bahwa zina kedua mata adalah melihat sesuatu yang haram atas dirimu.” Aku bertanya keheranan, “Apakah masih ada wahyu sepeninggal Nabi?” Jawab Uthman, “Tidak, tetapi ini adalah penglihatan hati, bukti firasat yang benar.”
Masalah ilham menjadi perdebatan di kalangan umat Islam sejak dahulu. Hal ini dapat diketahui dari apa yang dikemukakan oleh Al-Gazālī dalam bukunya Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, dalam bab ‘Ajā’ib al-Qulūb bahwa ada orang yang dipilih Tuhan untuk mendapatkan makrifah tanpa melalui pembelajaran seperti biasa. Makrifah itu tersingkap (kashf) baginya melalui ilham, atau terhunjam ke dalam hatinya dari arah yang tidak diketahuinya, hingga ia mejadi seorang arif. Menurut Al-Gazālī, sangat sulit orang yang dapat sampai pada tingkatan makrifah, tetapi orang yang belum berhasil sampai pada tingkat seperti itu, seyogyanya ia bersedia mempercayainya.
Selanjutnya, Al-Gazālī mengemukakan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta dalil-dalil dari pengalaman rohani beberapa tokoh dan ulama sufi. Berikut ini dikemukakan sepintas dalil dari Al-Qur’an seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-’Ankabāt [29]: 69, ”Orang-orang yang berjihad (berupaya sungguh-sungguh) dalam (mencari keridaan) Kami, niscaya akan Kami tunjukkan mereka ’jalan-jalan’ Kami”. Al-Qur’an Surah Al-Talāq [65]: 2-3: “...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” Yakni diajarkan kepadanya pengetahuan tanpa melalui proses pembelajaran, dan membuatnya pandai tanpa melalui pengalaman. Ayat lain dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfāl [8]: 29, ”Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberimu furqān.” Sebagian ahli menafsirkan, kata furqān adalah cahaya yang membedakan antara haq dan bάthil, dan mengeluarkannya dari segala yang mergukan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW selalu memperbanyak doanya agar diberi ’cahaya’. Hal ini seperti sabda Nabi SAW yang artinya: “Ya Allah, berikan kepadaku cahaya, tambahkan untukku cahaya, berikanlah cahaya di dalam hatiku, kuburanku, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku, darahku, dan tulang-tulangku, ” (HR Bukhari dan Muslim). Nabi SAW telah bersabda, “Di antara umatku ada yang diberi ilham (muhaddath) atau diberi pengetahuan khusus (mu’allam) dan diajak bicara oleh malaikat (mukallam). Dan sesungguhnya Umar adalah salah satu dari mereka,” (HR Bukhari).

Lebih lanjut Al-Gazālī mengemukakan ungkapan beberapa tokoh Islam tentang ilham atau ilmu tanpa proses belajar. Ali R.A. pernah berkata: “Tidak ada sesuatu yang disampaikan secara rahasia oleh Rasulullah kepada kami, kecuali pemahaman khusus dalam kitab Allah yang diberikan kepada seseorang hamba-Nya. Jelas, bahwa semua itu bukan melalui pembelajaran. Abū Dardā’ pernah berkata: ”Orang mukmin ialah yang melihat dengan cahaya Allah kepada apa yang berada di balik tirai yang tipis. Demi Allah, itulah kebenaran yang dihunjamkan Allah ke dalam hati mereka dan dialirkan melalui lidah-lidah mereka”. Abū Yazīd dan beberapa pendapat ulama yang senada dengan ucapannya: ”Seorang yang disebut ‘ālim bukanlah yang menghafal dari kitab, yang kalau lupa, ia kembali menjadi bodoh, tetapi sesungguhnya orang yang benar-benar ‘ālim adalah yang mengambil ilmu dari tuhannya kapan saja ia kehendaki, tanpa belajar dan menghafal. ”Itulah yang dinamai ’ilm rabbānī (ilmu yang langsung dari Tuhan), seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi (18): 65: ”…dan kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (ilmu ladunni).” Pada hakikatnya, ilmu itu bersumber dari sisi Allah (min ladun Allah). Namun ada ilmu (bahkan kebanyakan) yang diperoleh melalui proses belajar dari orang lain, maka ilmu semacam itu tidak disebut ilmu ladunni. Adapun yang disebut ilmu ladunni adalah pengetahuan langsung dari Tuhan yang terpancar dalam lubuk hati secara khusus, tanpa sebab dari luar.

Beberapa contoh pengalaman spiritual yang dapat disebutkan tentang ilmu yang langsung diterima dari Tuhan, seperti Abu Bakar Al-Siddīq yang menyampaikan kepada putrinya, Aisyah (istri Rasulullah), bahwa adiknya yang akan lahir dari rahim ibunya adalah perempuan, dan setelah lahir ternyata benar anak perempuan. Umar ibn Khattāb R.A. sementara berkhutbah, ia berteriak, ”Hai Sariyah, berlindunglah di sisi gunung! Di sisi gunung!” Waktu itu , Sariyah, sebagai komandan pasukan sedang berhadapan dengan musuh di daerah Siria yang berjarak ratusan kilometer. Jelas bahwa pada saat itu, tersingkap bagi Umar posisi musuh yang hendak menyerbu pasukan kaum muslim. Oleh karena itu, ia segera memperingatkan mereka agar bersikap waspada.

Abū Abbās ibn Masrūq mengunjungi Abū Al-Fadl Al-Hāsyimī ketika ia sedang sakit. Al- Hāsyimī dikenal sebagai orang yang miskin, mempunyai tanggungan keluarga yang cukup besar, tetapi tidak ada orang yang mengetahui dari mana ia mendapatkan belanja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Kata Abbās selanjutnya: ”Ketika aku akan meninggalkannya, terlintas sebuah pertanyaan dalam hatiku, tanpa terucapkan, dari mana orang ini mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya? Tiba-tiba Al- Hāsyimī berkata dengan suara keras, ”Hai Abū Abbās, jangan sekali-kali mencemaskan (dunia) yang hina ini. Sebab Allah SWT senantiasa melimpahkan karunia-karunia lutf-Nya. ”Menurut Sulaiman Al-Dārānī, ”Hati manusia bagaikan bangunan kubah, dikelilingi oleh pintu-pintu yang terkunci rapat. Pintu apa saja yang dibuka, pasti akan berpengaruh padanya.” Jika pintu hati yang terbuka berhubungan dengan alam malakut, hal itu disebabkan karena mujāhadah (latihan rohani) dan warā’ (mawas diri), serta berpaling dari berbagai syahwat dunia. Oleh karena itu, Umar R.A. pernah menulis surat kepada pejabat negara dan komandan pasukan, seraya mengatakan, ”Perhatikan baik-naik apa yang kalian dengar dari orang-orang yang taat kepada Allah. Sebab dari hati merekalah akan terkuak segala kebenaran.”

Menurut Al-Gazālī, banyak sekali kisah yang berkaitan dengan firasat para Syaikh, serta ungkapan-ungkapan mereka, sehingga tidak mungkin terhitung jumlahnya, seperti kisah-kisah mereka tentang perjumpaan dengan Khidir A.S., suara-suara gaib yang mereka dengar, dan peristiwa-peristiwa ajaib yang mereka alami. Al-Gazālī juga mengemukakan dua bukti tentang kemungkinannya terjadi kasyaf (tersingkap tabir). Pertama, adanya ru’yah shadiqah (mimpi yang benar) dimana dapat tersingkap hal-hal yang gaib. Kalau hal itu dapat terjadi pada waktu tidur, maka tidak mustahil dapat terjadi pada saat jaga (tidak tidur). Kedua, adanya pemberitaan kepada Rasul SAW tentang hal-hal yang gaib, maka tidak mustahil juga dapat terjadi pada orang selain Nabi SAW. Nabi dapat disingkapkan baginya tentang pelbagai hakikat sesuatu, di samping diutus untuk memperbaiki manusia, maka tidaklah mustahil ada juga orang tertentu yang disingkapkan berbagai hakikat sesuatu, meskipun ia tidak ditugasi untuk memperbaiki manusia, dan orang seperti itu tidak dinamai nabi, tetapi dinamai wali.

Dalam komentarnya terhadap Fusūs Al-Hikam karya Ibn ’Arabī, Afifi menyebutkan bahwa para sufi membedakan antara al-hikmah dan al-kitab dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2): 151: ”Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu katahui.” Menurut para sufi, al-kitāb adalah pelajaran agama khusus syariat dan yang berhubungan dengan hukum-hukum yang juga dinamai al-’Ilm al-Zāhir, sedangkan al-hikmah adalah pendidikan batin yang dikhususkan kepada Rasul SAW kemudian diwariskan kepada ahli warisnya (ulama) sesudahnya, dan dinamai al-’ilām al-bātinī. Dan yang dimaksud dengan ilmu batin menurut mereka adalah ilmu tasawuf, yaitu apa yang terungkap bagi sufi tentang hakikat sesuatu dan peristiwa gaib. Menurut Ibn Arabī, di antara kekhususan al-hikmah adalah turun ke hati, bukan ke akal. Hal ini jelas bahwa hati itu adalah tempat kasyaf dan ilham.
Sekurang-kurangnya ada dua kitab Ibn Arabī (w.1240 M) yaitu Al-Futūhāt Al-Makkiyyah dan Fusūs Al-Hikam, yang ditulis bukan berdasarkan hasil pemikirannya, tetapi melalui pemberian Ilahi. Menurut pengakuannya, susunan bab dalam kitab Al-Futūhāt Al-Makkiyah yang terdiri atas 4 jilid itu bukan berdasarkan pilihan dan hasil pemikirannya, tetapi berdasarkan dikte dari Allah SWT. Lewat malaikat pembawa ilham. Sedangkan tentang kitab Fusūs Al-Hikam sebagaimana dikemukakan Ibn Arabī sendiri, bahwa buku tersebut diberikan oleh Nabi SAW untuk diambil manfaatnya oleh manusia.
Khusus untuk kalam ilham yang diterima Tuangku Muhammad Ali Hanafiah sebenarnya bukan hal yang baru. Di antara ulama sufi yang pernah menerima ilham yang mirip dengan itu, yakni didahului dengan ungkapan ”Wahai hamba-Ku” ialah Abd al-Jabbār Al-Nifārī (w.354 H/965 M), seorang sufi yang lahir di daerah Basrah, Irak dan meninggalkan karya yang berjudul Mawāqīf wa Mukhātabāt (Posisi-posisi dan Percakapan-percakapan). Ia lebih suka menyendiri, seklipun ia banyak melakukan pengembaraan ke berbagai negeri Islam. Tampaknya ia idak mau memperlihatkan karyanya kepada orang banyak, sehingga ia tidak begitu terkenal, sampai seorang orientalis Inggris, Arthur John Arberry, menemukan dan menerbitkan pada tahun 1934.
Di bawah ini dikemukakan satu contoh kutipan dari buku Al-Nifārī:
Wahai hamba-Ku
Tobatlah kepada-ku
dari sesuatu yang kubenci
akan kuhargai untukmu
apa yang engkau cintai
Panggilah Aku dari kejauhan
dan kedekatkanmu
dan minta tolonglah kepada-Ku
terhadap fitnah dan kelurusanmu.

Updated: 6 April 2017 — 8:36 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dewan Ulama Thariqah Indonesia © 2017 Frontier Theme