SAMBUTAN DEWAN ULAMA THARIQAH INDONESIA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Terima kasih kami ucapkan atas kehadiran Bapak Menteri Agama Republik Indonesia beserta rombongan, Bapak Gubernur Provinsi Sumatera Barat, Bapak Kapolda, Bapak Danrem, Bapak Kajati Sumatera Barat, Bapak KaKanwil Kemenag Sumatera Barat, Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati Solok, Bapak Bupati dan Walikota kepala daerah yang hadir. Khusus kepada Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani beserta para Mursyid ASEAN yang Allah Muliakan, Indonesia dari berbagai provinsi, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapore yang telah berkenan hadir pada acara Silaturrahmi dan Mudzakarah Ulama thariqah se-ASEAN di Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani Koto Sani Kabupaten Solok Sumatera Barat Indonesia. Serta seluruh ulama, pemuka masyarakat dan jama’ah berbagai Thariqah, hadirin dan hadirat yang dimulyakan Allah SWT.

Pada kesempatan ini izinkan kami menyampaikan bahwa Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI) sejarahnya adalah diawali dengan dibentuknya Persatuan Ulama Thariqah Indonesia (PUTI) oleh Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani pada tahun 2003, yang selanjutnya melalui forum silaturahmi ulama thariqah pada tahun 2016 dikukuhkan dan dibentuklah Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI) yang legalitasnya dikeluarkan oleh Kemenkumham Repulik Indonesia pada bulan Agustus 2016.
Tujuan dibentuknya Dewan Ulama Thariqah Indonesia adalah untuk menjadi wadah bagi para mursyid di Indonesia untuk berhimpun, bersilaturahmi dan menuangkan gagasan-gagasan dalam membina umat Islam dengan pendekatan humanis, ukhuwah, dan spiritual melalui maksimalisasi peran ulama thariqah di Indonesia.
Perlu kami sampaikan bahwa Pengurus Dewan Ulama Thariqah Indonesia adalah para khalifah sebagai perwakilan dari syekh/muryid thariqah yang ada di Indonesia, Adapun posisi para Syekh/Mursyid thariqah adalah selaku anggota dewan mustasyar. Segala keputusan dan kebijakan menjadi kewenangan para Syekh/Mursyid yang difasilitasi dan dilaksanakan oleh pengurus DUTI.

Bapak Menteri, Para Mursyid dan Undangan yang terhormat.

Ijin kami menyampaikan bahwa acara Silaturahim Ulama Thariqah se-ASEAN kali ini didasari oleh keprihatinan bersama para ulama thariqah di kawasan ASEAN tentang perkembangan dan situasi umat Islam di dunia saat ini. Di satu sisi, umat Islam terpecah belah, tampil dengan wajah penuh kekerasan, tumbuhnya radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Pada sisi yang lain, umat Islam mengalami gempuran tiada henti dari berbagai arah, ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain yang semakin menjauhkan umatnya dari akidah, syariah, dan akhlak yang islami sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Itulah sebabnya, mengapa “Cinta Agama dan Bela Negara” menjadi tema pertemuan para mursyid se-ASEAN pada kesempatan ini. Dewan Ulama Thariqah memandang bahwa “Cinta Agama dan Bela Negara” tidak selalu diartikan hanya dalam bentuk fisik karena bahan dasar bela negara adalah ukhuwah/rasa persaudaraan. Tanpa adanya ukhuwah/rasa persaudaraan mustahil akan terwujud kecintaan kepada agama dan rasa tanggungjawab bagi keutuhan, keberlanjutan, dan kemajuan bangsa dan negara.

DUTI ingin mewujudkan ukhuwah yang terutama adalah mempertautkan yang jauh demi terwujudnya umat yang kuat yang tidak mudah terpecah belah oleh kepentingan-kepentingan duniawi semata.
Maka tujuan DUTI menyelenggarakan pertemuan Ulama Thariqah se-ASEAN dan deklarasi berdirinya Dewan Ulama Thariqah ASEAN (DUTA), adalah dalam rangka :

  1. Dakwah, akan diwujudkan dakwah mursyid lintas negara. Para mursyid akan saling mengunjungi dan berbagi dengan jama’ah thariqah se-ASEAN dengan jadwal yang disepakati, guna menjalin rasa kekeluargaan karena dunia thariqah adalah satu rumpun dan satu jalur sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
  2. Pendidikan, Dewan Ulama Thariqah akan menyelenggarakan studi banding para murid-murid thariqah se-ASEAN. Pertukaran jamaah diharapkan agar terciptanya generasi yang punya wawasan yang luas sehingga tidak merasa paling benar sendiri dan untuk menghilangkan keegoan dalam berthariqah serta memaklumi perbedaan dan cara yang berbeda dengan thariqah-thariqah lain.
  3. Ekonomi, Dewan Ulama Thariqah dalam hal ini meyakini bahwa hampir seluruh mursyid mempunyai kegitan ekonomi tersendiri yang dikelola untuk menunjang penghasilam jama’ah dan thariqah. Dewan Ulama Thariqah akan mencoba mensinergikannya dengan jama’ah-jama’ah thariqah se-ASEAN. Dewan Ulama Thariqah merencanakan agar setiap mursyid dapat membawa sedikitnya 10 (sepuluh) pengusaha muslim untuk mensinergikannya dengan thariqah yang ada dalam ruang lingkup Dewan Ulama Thariqah ASEAN, yang tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi daerah masing-masing.
  4. Pengkaderan/Regenerasi, Pengaruh globalisasi sangat kuat sekali mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak dan jika tidak dibentengi dengan akidah yang kuat, pengetahuan agama yang memadai, dan keteladanan yang baik maka mereka akan tumbuh dengan tanpa pegangan, tanpa identitas, dan tanpa nilai. Hal ini merupakan awal bagi kehancuran sebuah generasi.

Bapak Menteri, Para Mursyid dan Undangan yang terhormat.

Banyak terjadi kesalahpahaman dalam dunia thariqah dimana ada kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan thariqah padahal bukan termasuk thariqah yang sesuai dengan al-Qu’ran dan Sunnah (Ahlussunah Waljama’ah) di antaranya adalah :

  1. Konsep Ittihad dan Wahdatul Wujud, adanya pemahaman sebagian masyarakat dan bahkan orang yang mengaku berthariqah bahwa maqam yang teringgi di dalam berthariqah adalah ittihad (bersatu dengan tuhan) dan bahwa tuhan, manusia dan alam ini adalah wujud yang sama (wahdatul wujud). Mereka beranggapan bahwa paham ittihad dan wahdatul wujud adalah benar-benar ada dalam dunia thariqah. Paham tersebut hanya dinisbatkan kepada ulama thariqah tertentu yang sebenarnya merupakan buku/hasil penelitian orang-orang yang tidak memahami dunia thariqah (bukan murid atau guru thariqah). Memang betul bahwa tidak ada jarak dan perantara antara hamba dan Tuhannya, namun bukan berarti kedekatan seperti itu tanda bersatunya hamba dengan Tuhan. Ibaratnya, seorang laki laki yang jatuh cinta kepada seorang wanita dan menyatakan, “Engkau dan aku adalah satu”. Bersatu dalam rasa cinta bukan bersatu dalam keadaan sebenarnya.
  2. Konsep Shalat cukup dengan zikir, Ada juga orang mengaku berthariqah namun mempunyai paham bahwa sholat itu hanya dengan ingat kepada Allah tanpa melakukan rukuk dan sujud, dengan mengambil potongan ayat “إقم الصلاة لذكري = dirikan shalat untuk mengingat-Ku/zikir kepada-Ku“ (QS. Thaha/20:14). Ajaran ini bukanlah ajaran thariqah yang sesungguhnya, sebab seluruh ulama thariqah di dunia telah sepakat dengan Abu Yazid al-Bustami, jika “وزننا الشريعة = thariqah timbangannya adalah syariat.“ Maka, apabila ada pengamalan ajaran thariqah tidak lagi berpedoman kepada syariat maka sesungguhnya thariqah itu adalah batil.
  3. Tawasul, adalah sarana agar lebih cepat sampai pada Allah dan bukan perantara antara kita dengan tuhan kita. Dewan Ulama Thariqah memandang berguru kepada mursyid diibaratkan dengan memakai teknologi yang terkini. Artinya, apabila kita bisa lebih cepat sampai dengan menggunakan kendaraan bermotor atau pesawat terbang maka itu lebih baik dijadikan sarana atau kendaraan daripada kita masih mempergunakan sepeda. Jadi guru adalah sarana untuk mempercepat kita untuk sampai kepada Allah, bukan menjadi perantara. Jika ada pernyataan bahwa apabila tidak berguru maka tidak akan pernah sampai kepada Allah, maka pernyataan tersebut adalah tidak benar. Bagi orang berakal, apabila telah menemukan sarana untuk lebih cepat sampai kepada tujuannya tentunya ia akan lebih memilih memakai mobil daripada sepeda jika memang ia bersungguh-sungguh untuk sampai kepada tujuannya. Sesuai firman Allah yang berbunyi “والذين جاهدوا فيها لنهدينهم سبلنا = siapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, maka pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami kepada mereka (QS. Al Ankabut, 29: 69)”
  4. Ziarah kubur, Dewan Ulama Thariqah mempunyai pandangan bahwa ziarah kubur bukanlah untuk meminta kepada ahli kubur, sebagaimana orang bersangka jika pengamal thariqah adalah kuburiyun atau penyembah kubur. Ziarah kubur adalah moment mengingatkan kita akan kematian dan berdoa kepada Allah dan kita harapkan para malaikat dan ahli kubur ikut serta mengamini doa kita kepada Allah. Bukankah setiap kita yang mendatangi kuburan semestinya memberi salam kepada ahli kubur dan rasulullah SAW sendiri menjamin salam kita akan dijawab oleh ahli kubur. Begitupun dengan doa kita kepada Allah tentunya si ahli kubur ikut utk mengamini doa tersebut.
  5. Bai’at, sering terjadi salah paham dalam hal bai’at, dimana bai’at seakan membatasi seorang murid dalam berguru dan belajar kepada ulama/syekh yang lain. Dewan Ulama Thariqah memandang bahwa tidak ada bai’at yang membatasi seorang murid untuk belajar kepada ulama yang lain. Kalau ada bai’at seperti itu maka itulah bai’at yang batil. Para guru-guru dan ulama thariqah terdahulu bahkan ada yang belajar dan menerima ijazah dari empat sampai belasan thariqah.
  6. Adab, Dewan Ulama Thariqah melihat masih adanya pengkultusan individu oleh murid kepada guru-gurunya, dimana guru-guru itu sendiri tidak pernah mengajarkannya.
    Dewan Ulama Thariqah dengan ini memberikan gambaran umum tentang adab dalam dunia thariqah :

    • Dalam dunia thariqah, mursyid merupakan orang tua spiritual bagi murid. Namun, jika si murid tidak memiliki adab kepada orang tua biologisnya maka sama saja dia tidak beradab kepada gurunya. Dalam thariqah, adab seorang murid kepada guru atau mursyidnya tidak boleh melebihi adabnya kepada orang tuanya sendiri.
    • Adab kepada mursyid/guru thariqah yang lain harus sama dengan adabnya kepada mursyid/gurunya sendiri. Jika seorang murid tidak beradab kepada mursyid/guru thariqah lain, maka itu sama artinya dia tidak memiliki adab kepada guru/mursyidnya sendiri.
    • Adab murid kepada guru dan thariqah lain adalah termasuk kesiapan dirinya menerima kebenaran dari guru atau thariqah lain. “Thariqah ibarat butiran emas dalam pasir yang akan menyatu apabila dipanaskan”. Jika seorang murid bahkan guru sekalipun tidak bisa menerima kebenaran dari guru atau thariqah lain, tidak mudah menyatu dan menerima kebenaran dari thariqah lainnya maka ia bukanlah pengamal thariqah karena pengamal thariqah ibarat butiran emas di pepasiran yang apabila dipanaskan ia akan mudah meleleh dan menyatu satu sama lainnya. dan jika ia bukan butiran emas maka ia tetap tidak tidak akan menyatu walaupun dipanaskan dengan ribuan derjatpun, dan tetap akan berderai tak pernah dapat disatukan. Disinilah peranan mursyid sebagai api yang melelehkan serta menyatukan murid-muridnya dengan thariqah lainnya.

Bapak Menteri, Para Mursyid dan Undangan yang mulia.

InsyaAllah Dewan Ulama Thariqah dalam satu tahun kedepan akan mengadakan pertemuan ulama dan umara ahlussunnah waljama’ah se-Asia yang insyaAllah akan dihadiri oleh kepala negara beserta ulamanya, yang akan diselenggarakan di Kota Padang Sumatera Barat. Pada kesempatan ini kepada bapak menteri, bapak gubernur, bapak Walikota padang dan seluruh instansi dan lembaga terkait dimohonkan bantuan dan sokongannya.
Dapat juga kami sampaikan bahwa guru kita Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani/Rais Mustasyar DUTI telah menjalin komunikasi dengan dua negara di antaranya Turkey dan Chechnya. Pada prinsipnya mereka setuju dan sangat mendukung rencana silaturrahmi Ulama dan Umara ahlussunnah waljama’ah tersebut.
Selanjutnya, kepada pemerintah pusat melalui bapak menteri agama dan pemerintah daerah melalui bapak gubernur, bupati dan walikota kami mohon untuk dapat mendukung dan bekerja sama dengan segala kegiatan dan rencana kita kedepan dalam rangka membangun ukhuwah dan membangun kualitas iman dan taqwa umat untuk menumbuhkan cinta agama dan bela negara.

Disampaikan oleh Dr. Zubair Ahmad,MA pada Silaturahim dan Mudzakarah Ulama Thariqah Se-ASEAN pada tanggal 1-2 April 2017 di Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani, Solok Sumatera Barat, Indonesia

Updated: 5 April 2017 — 9:06 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dewan Ulama Thariqah Indonesia © 2017 Frontier Theme